In Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com,
Visum dan Investigasi Oleh Hasan Aspahani
Korban : Hasan Aspahani
Ini sajak Erwin Arianto (www.coretanpena- erwin.blogspot.com) yang dikirim ke berbagai milis yang kebetulan juga saya ikuti. Sayang, sajak ini dan satu sajak lain yang sudah saya ributkan sudah dia hapuskan dari blognya:
penyair, jangan kau sebut lagi aku dalam puisimu
Sajak ERWIN ARIANTO
meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi?
Adakah Salah syair bertulis makna
di mana bisa kutemui
puisi malam ini katanya
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada , di sana cuma ada rembulan.
apa yang lebih indah dari sebunga puisi
tak ada.. tak ada.. di luar taman hati
terhambur kelopak-kelopak kata tak berkna
yang baru saja mekar dilembar penuh duka
apa makna lebih resah dari sejuta puisi
tak ada,mengasuh setiap ucap seperti sabda
penyair tolong jangan kau sebut lagi aku dalam puisimu
jika hanya memperparah luka Kata
Depok 30 April 2008
Mari kita lihat bagaimana cara dia mencontek:
Bait 1:
meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi?
Adakah Salah syair bertulis makna
Ini sajak saya (Des 2002, cek di blog Sejuta Puisi):
Lalu Kusebut Puisi, Mau Apa
meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi,
"kau mau apa?"
des2002
IA hanya menganti tanda tanya dengan koma, dan kemudian menambah satu larik: Adakah Salah syair bertulis makna.
Kenapa S pada kata "salah" harus kapital? Entahlah, ini mungkin jurus puitika baru yang ingin dia perkenalkan. Tapi, saya kira dia hanya tidak tahu tata bahasa dan aturan ejaan, kapan huruf besar dan kapan huruf kecil.
Bait 2:
di mana bisa kutemui
puisi malam ini katanya
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada , di
Dan berkut ini sajak saya, ditampilkan di blog Sejuta Puisi pada
tanggal yang sama dengan puisi saya di atas di:
Kata Penyair Tua
"di mana bisa kutemui
puisi malam ini?" katanya
(dia rindu sekali)
kata penyair tua:
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada
tak ada, di sana
cuma ada bulan.
(des 2002)
Erwin membuang tanda petik untuk kalimat langsung, membuang bait "(dia rindu sekali)" dan "kata penyair tua:" dan langsung ke larik berikutnya dengan mengubah pelarikan.
Dia saya kira tidak tahu penyair tua itu siapa, kenapa kuburan, dan kenapa bulan, dan bukan "rembulan" seperti yang dia pilih untuk menggantikan kata itu. Atau dia tahu? Sehingga tiba-tiba muncul sosok fiktif dengan marga yang sama dengan Sitor? Dua bait berkutnya pun diolah dengan cara yang sama. Nanti kita bahas. (bersambung)
1 komentar:
Unik isinya.
Posting Komentar