Kamis, 15 Mei 2008

Donny Anggoro memang Senior CopyPaste

In http://kemudian.com/node/81514
Investigasi dan Visum : Dino F Umahuk
Korban : Putu Setia
Pelaku :Donny Anggoro
Kasus : Plagiat Cerpen

Maafkan Aku tak Dapat Menolongmu Kawan

Kejahatan plagiat sama besarnya dengan suap-menyuap. Plagiat bukan sekadar sebuah kebohongan, tetapi juga masuk kategori perampokan kelas kakap. Betapa pedihnya hati ini jika karya tulis kita dicontek dan disebarkan dengan identitas lain. Kata mantan ketua Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmadja.

Saya sepakat dengan Elba Damhuri, wartawan Republika yang menyatakan bahwa tindakan menjiplak bukan hanya menipu dan merampok diri sendiri, tetapi sama juga dengan menyebarkan kebohongan publik dan merampok orang lain. Sangat lumrah jika pelakunya dibawa ke pengadilan, dijebloskan ke penjaran, dan dikucilkan dari profesinya.

Asahan Aidit memberi sebuah contoh yang menarik untuk kita baca. Menurutnya, di Belanda juga pernah ada ribut-ribut membicarakan soal tuduhan plagiat yang kalau tidak salah adalah pengarang Jeroen Brouwer yang tertuduh sebagai plagiator. Itu terjadi pada lima atau enam tahun lalu dan kesimpulan dari ribut-ribut soal tuduhan plagiat itu diahiri dengan sebuah pendapat genial: Tuduhan plagiat yang tidak terbukti adalah semacam komplimen atau pujian yang sangat tinggi pada sang tertuduh sebagai "plagiator". Itu sangat mudah dimengerti, karena sang "plagiator"begitu pandai dan ulungnya "meniru" karya orang lain hingga membuat orang lain tidak percaya atau ragu bahwa itu adalah karyanya sendiri.

Berkaitan dengan menyeruaknya kasus plagiat di milis Apresiasi Sastra dimana Donny Anggoro sebagai pelaku dan Wawan Eko Yulianto sebagai korban, saya mengutip sebuah email JJ.Kusni yang dikirim dari Paris, Februari 2004.

Tanggal 26 Februari 2004, berbagai milis sastra, seperti panggung, penyair, bumimansia,bungamatahari, termasuk koran-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx, menyiarkan pengumuman atau pemberitahuan dari Tim Penyunting Antologi Cerpen Temu Sastra Kota, "Kota yang Bernama dan Tak Bernama", yang antara lain memuat cerpen karya Donny Anggoro berjudul "Olan". "Buku tersebut diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan Penerbit Bentang Yogyakarta), dalam rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), 19-21 Desember 2003, yang proses seleksi cerpen-cerpen di dalamnya dilakukan oleh satu tim penyunting terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Linda Christanty, Maman S. Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain Hae, dan Wowok Hesti Prabowo".

Dalam pemberitahuan atau pengumuman itu, Tim Penyunting Antologi Cerpen cerpen tersebut mengatakan bahwa:

"Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari cerpen karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari Comberan [Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85)",

dan :

"Atas keteledoran tersebut, tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia, penerbit,dan khalayak pembaca. Tim penyunting juga menyatakan bahwa cerpen "Olan" karya Donny Anggoro ditarik dari buku Kota yang Bernama dan Tak Bernama.

Selanjutnya, setelah memberikan penilaian bahwa "sebagian cerpen karya Donny Anggoro" merupakan jiplakan", dan melakukan otokritik, Tim Penyunting menggunakan sebuah alinea tersendiri menyampaikan peran khusus kepada Donny Anggoro dalam kata-kata berikut:

"Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar tidak mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia".

Jika di kita bersandar pada kenyataan tanggal 26 Februari 2004, maka semestinya setelah menerima teguran keras dari panitia, Donny harusnya tersadar dan bersumpah untuk tidak malakukan kembali praktek serupa apalagi sampai tiga kali.

**
Menurut Ayip Rosidi, Dalam dunia ilmu dan seni ada istilah plagiat, yaitu kalau sebuah karya ilmiah atau karya seni yang diumumkan oleh seorang ilmuwan atau seniman ternyata sama atau hampir sama, atau sebagian besar bentuk dan isinya berdasarkan karya ilmiah atau karya seni orang lain tanpa menyebut atau menerangkan kenyataan tersebut. Artinya, ilmuwan atau seniman itu mengakui karya ilmiah atau karya seni tersebut sebagai karyanya sendiri dan mengumumkan karya itu atas namanya.
Dalam pandangannya, plagiat baik dalam dunia ilmu maupun seni merupakan perbuatan tercela, hina, dan disamakan dengan pencurian atas ciptaan orang lain.

Pada pendapat Zulmasri, kecurigaan yang pertama kali atas ketidakjujuran seorang pengarang dalam berkarya adalah persoalan konsepnya dalam mengarang dan kelabilan untuk segera “cepat mapan”. Menurutnya, mengambil dengan jelas-jelas karya orang lain dan menganggapnya sebagai karya sendiri, sudah tentu tidak dapat dimaafkan dan menghilangkan rasa simpati serta kepercayaan orang. Kesusahan yang telah dijalani pengarang lain dirampok begitu saja.

Di Majalah Horison, Januari 1986, Goenawan Mohamad menulis begini “Harga sebuah kata ditentukan oleh tebalnya lapisan penderitaan yang membuat kata itu ditulis. Sebuah puisi atau novel, adalah pencerminan pribadi; sebuah komposisi dari pengalaman yang tulen. Justru karena puisi atau novel mendapatkan kekuatannya dari sana, ia tidak perlu tersisih dari perhatian. Di sampingnya, sang pengarang seharusnya tak perlu lagi menunjukkan diri”.

***
Dalam sejarah sastra tanah air, menurut Ayip Rosidi, perbuatan plagiat yang amat masyhur ialah yang dilakukan oleh penyair Chairil Anwar. Akan tetapi, perbuatan itu baru diketahui setelah sang penyair meninggal dunia.

Sahabat- sahabatnya seperti HB Jassin dan Asrul Sani membela perbuatan tersebut dengan mengatakan bahwa Chairil terpaksa berbuat demikian karena pada waktu itu dia memerlukan uang untuk berobat.

Namun, perbuatan memplagiat sajak Hsu Chi Mo (Datang Dara Hilang Dara), Archibald MacLeish (Krawang-Bekasi), dan lain-lain tetap merupakan perbuatan tercela yang mencoreng kemasyhurannya sebagai penyair terkemuka walaupun kepeloporannya dalam per-puisian Indonesia tetap diakui.

Dengan berkaca pada kasus Chairil Anwar, maka sebagai teman dengan sangat terpaksa saya tidak dapat membela dirimu, karena saya bukanlah HB Jassin atau Asrul Sani dan engkau juga bukan Chairil Anwar yang butuh uang untuk berobat. Maafkan aku.

Kesalahanmu adalah kau melebihi keledai yang terperosok di lubang yang sama bahkan sampai tiga kali. Mestinya setelah peristiwa "Olan" di tahun 2004 dan kau sempat di kucilkan teman-teman mestinya tidak kau ulangi.

Don…don, ada apa sih kawan?

*Diolah dari berbagai sumber

Dino Umahuk: Metafora Dari Laut
www.birahilaut.multiply.com

Donny Anggoro Tukang Contek Senior

In Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com,
Sent: Tuesday, January 29, 2008

Investigasi dan Visum :Mikael Johani
Korban : Wawan Eko Yulianto
Tersangka : Donny Anggoro
Kasus : Plagiat Resensi

Setelah kejahatan erwin arianto pada malaikat kecil dan apologianya yang full of shit dan seharusnya tidak boleh kapanpun dimaafkan tapi kelihatannya segudang orang di apsas ini peduli pun tidak, sekarang ini:

Jika sebelumnya kita hanya mengenal kisah kepahlawanan dalam bentuk cerita-cerita silat yang sulit ditemui pada prosa Indonesia hari ini, maka Turquoise adalah sebuah penyegaran dan alternatif baru bagi kita: berkisah kepahlawanan dan cinta, berlatarkan kehidupan di masa lalu, di sebuah negeri yang deskripsinya tak jauh-jauh dari Arab atau Turki, pedang dan kuda muncul di berbagai bagian buku, adegan tarung pedang digelar di beberapa bagian. ('turquoise: pukauan prosa laga' oleh Wawan Eko Yulianto, di http://wawanekoyulianto.multiply.com/reviews/item/31, posting tgl 25 desember 2007. selanjutnya WEY.)


Turqouise dalam perjalanannya menawarkan kesegaran baru dalam prosa Indonesia , khususnya fantasi epik. Ia menjadi sesuatu yang unik dengan berlatarkan kehidupan di negeri bernuansa Arab-Afrika. Jika sebelumnya kita hanya mengenal kisah kepahlawanan dalam bentuk cerita-cerita silat yang sulit ditemui dalam novel-novel Indonesia pada masa kini, Turquoise menjadi semacam katarsis penyegaran dan alternatif baru bagi kita dengan alur yang tak bersolek berlatarkan kehidupan di sebuah negeri yang deskripsinya tak jauh-jauh dari Arab
atau Turki. Adegan pertarungan dengan senjata pedang digelar di beberapa bagian ... ('kesegaran fantasi epik' oleh Donny Anggoro, Sinar Harapan 19 Januari 2008.)

Dua hal ini, setting Arab-Afrika dan persilatan, mungkin akan mengingatkan kita kepada Negeri Senja Seno Gumira Ajidarma. Namun, terlepas dari dua hal itu, kedua novel ini jauh berbeda ... (WEY)

Dua hal penting, setting Arab-Afrika dan persilatan mungkin sedikit mengingatkan kita kepada novel Negeri Senja-nya Seno Gumira Ajidarma. Namun terlepas dari dua hal itu, kedua novel ini jauh berbeda ... (DA)

Dikisahkan, seorang pemuda terlahir dan tinggal bersama orang tuanya sebagai pelayan di rumah besar milik saudagar kaya raya Youssef. Pemuda ini, Husayn namanya, tumbuh menjadi seorang perjaka yang tampan dan mempesona di mata Safira, putri tuan Youssef. Pada akhir masa remajanya, Qadrii, sepupu Safira, anak kepala kampung yang terhormat, juga sahabat Husayn, meminang Safira. Namun Safira yang telanjur menyukai dan mengikat janji dengan Husayn dengan serta-merta menolaknya. Bahkan, kepada ayahnya, Safira memproklamasikan cintanya kepada Husayn, si anak pelayan. Murka, dan kehilangan muka, membuat tuan Youssef mengusir Husayn beserta keluarganya. Safira pun menjadi sasaran kemarahan. Sebuah "wahyu" membimbing Safira menjadi seorang mistikus tabib yang menyerahkan hidupnya di jalan Tuhan. Husayn pun menemukan jalan takdirnya, menjadi penjaga gerbang kota, dan kemudian menjadi tentara pembela kota dari para penyamun padang pasir.

Dengan latar belakang seperti ini, kisah pun berkembang: Safira menemui ajal dan Husayn, yang telah terputus kabar dari Safira, bertumbuh menjadi "Singa Padang Pasir". (WEY)

Novel ini mengisahkan seorang pemuda bernama Husayn yang tinggal bersama orangtuanya sebagai pelayan di rumah besar milik saudagar kaya raya Youssef. Husayn tumbuh menjadi seorang perjaka yang tampan dan mempesona di mata Safira, putri saudagar Youssef. Pada akhir masa remajanya, Qadrii, sepupu Safira, anak kepala kampung yang terhormat, juga sahabat Husayn, meminang Safira. Namun Safira yang telanjur menyukai dan mengikat janji dengan Husayn menolaknya. Kepada ayahnya Safira mengumumkan cintanya kepada Husayn, si anak pelayan. Dipenuhi rasa murka, saudagar Youssef kemudian mengusir Husayn beserta keluarganya. Safira pun menjadi sasaran kemarahan. Sementara itu dalam masa pengembaraannya Husayn menemukan jalan menjadi penjaga gerbang kota , dan kemudian menjadi tentara pembela kota dari serbuan penyamun padang pasir. Kisah kemudian berkembang pada Safira yan menemui ajal. Sementara itu Husayn yang telah terputus kabar dari Safira tumbuh menjadi tentara dengan julukan "Singa Padang Pasir". (DA)

Kita pun juga diajak merenungi arti persahabatan yang sirna karena cinta, cinta yang musnah karena ketamakan, dan rasio yang kalah oleh amarah ... (WEY)

Dalam novel setebal 411 halaman ini pembaca seolah diajak merenungi kembali arti persahabatan yang sirna karena cinta, cinta yang musnah karena ketamakan, dan rasio yang kalah oleh amarah. (DA)

saya kira ini sudah cukup bukti (masih ada yg lain, silakan bandingkan sendiri tulisan asli di blognya wawan yg sudah saya kasih linknya di atas dan posting titon sebelumnya yg mengcopypaste copypaste-annya donny anggoro di sinar harapan) kalau donny anggoro memang ahli copypaste.

saya sudah meminta kepada wawan secara pribadi utk protes ini kepada sinar harapan, tolong akmal kasih dia deh nomor hapenya sihar (dia masih yg ngurus kaya ginian buat sinar harapan bukan?)

ini penting.

mikael.

Senin, 12 Mei 2008

Metafora Birahi Maut & Manifesto Penjiplak Lonte

Saksi Korban :Dino F Umahuk
Tersangka : Heru Hastowo & Ihsan Ma'zhumi
Kasus : Penjiplakan Puisi

In Apresiasi-sastra@yahoogroups.com
telah ditemukan sajak-sajak Dino F umahuk yang telah dijiplak

Metafora Birahi Laut *sudah dibukukan

Manifesto Perempuan Lonte *sudah dibukukan

cek saja di Birahilaut.multiply.com


Tidak perlu dibandingkan tapi baca saja milik Para Pelaku ini, tanpa perlu diutak-atik mereka bergaya dengan hasil karya orang lain.

Metafora Birahi Laut

Ini birahi tumbuh dari laut
ketika ombak pasang
dan badai melarungkan segumpal kemesraan
ke dalam jasad yang bernama Adam

Ini birahi datang dari laut
ketika langit merah saga
dan senja melabuhkan dahaga ke dada laki-laki
yang bernama anak Maluku

Ini puisi tak sekadar kata
Ia tumbuh berbunga mantera
ketika musim telah tiba
Janji kan dia tunaikan di rahim perempuan

Ini cinta tidak biasa
Ia lahir dari birahi laut
ketika ombak bersetubuh dengan pantai
dan dupa menguap dari ketiak malam

Dijiplak oleh Heru Hastowo


Dan Ini....

Manifesto Perempuan Lonte

Agustus 11, 2007

Ku kibarkan celana dalam di jalan-jalan yang mereka
lalui
Di sofa empuk jok depan mobil juga papan nama kantor
Jangan ingkari kami dibalik daster para istri
Bukankah semalam kita bergumul di ranjang yang sama
Sebelum buru-buru mandi kucing karena telepon
genggammu berbunyi
Panggilan pulang dari istri

Woe..ini dia celana dalam perempuan yang kalian sebut
lonte
Ini dia tubuh bugil yang kalian peluk di balik ketiak
para bini
Ini dia lendir yang kalian selipkan di liang tanpa
dosa

Jika malam tiba berton-ton kondom kalian sumpalkan ke
selengkangan kami
Besok pagi-pagi bocah cilik pinggir kali meniupnya
sebagai balon
Beterbanganlah dia ke jendela-jendela kantor
Ke ruang-ruang rapat ke langit-langit kebohongan

Mari sini kalian
Jangan pasang muka jijik jika ada para bini
Kami tak menuntut gaji sebulan tak butuh jalan-jalan
Hanay kita saling tau seberapa tenaga tersisa dari
perut yang membuncit

Ku kibarkan celana dalamku sebagai tanda merdeka
Bahwa republik ini tak hanya ada mimpi
Tapi juga desahan kami di setiap malam-malam panjang

Silahkan pak, masih ada setumpuk kondom
Bapak mau yang rasa apa

Dijiplak oleh Ihsan Ma'zhumi
Dilahirkan dan kemudian diberi nama itu, dibesarkan di keluarga melayu yang bertempat tinggal di daerah berpenduduk mayoritas jawa, aku belajar bernafas, merangkak, berjalan dan mencari nama baru.


Entahlah apa yang ada dipikiran keduanya ketika Memboyongnya tanpa mencantumkan nama penulis asli. Apa mungkin mereka tidak tahu jika menulis itu membutuhkan banyak usaha dan pikiran. Atau mereka lupa bagaimana menghargai sebuah karya?


Wahai Cinta Inilah Nyeri Dijiplak Matamuuu

Saksi Korban :Nanang Suryadi
Kasus : Pengeroyokan
Tersangka : masih buron

Berdasarkan laporan dari Nanang Suryadi di Apresiasi-sastra@yahoogroups.com
Nanang Suryadi, lagi-lagi menjadi sasaran empuk para pelaku para plagiator. Entah disengaja atau tidak. Tanpa mencantumkan nama, karya tulisnya yang sempat dibukukan berjudul "Wahai Cinta Inilah Nyeri Merindu Wajahmu"
http://nanangsuryadi.blogspot.com/2007/12/wahai-cinta-inilah-nyeri-merindu.html
Dibajak orang-orang tidak bertanggung jawab.

Beberapa Blog Mencantumkan karyanya tanpa diutak atik terlebih dahulu.
http://kaskus.us/archive/index.php/t-403362-p-11.html
http://cucuk_aryan.blogs.friendster.com/izfa_/2008/01/wahai_cinta_ini.html
http://my.opera.com/28juniar/blog/show.dml/186113?cid=2377814
http://smile-tewol.blogspot.com/
http://keken.blogspot.com/2005/08/wahai-cinta-inilah-nyeri-merindu.html
http://can_dra.blogs.friendster.com/candra/puisi/index.html

Dan kami masih menyelidiki sampai sejauh mana mereka melakukan pelanggaran. Jika terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa mereka melakukannya dengan sengaja maka kami akan menindak tegas dengan memberi ultimatum dan membeberkan jati diri mereka.

Kamis, 08 Mei 2008

Kejahatan Oleh ERWIN ARIANTO

In Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com

Investigasi : Nanang Suryadi

Korban : Nanang Suryadi

Tersangka, Pelaku : Erwin Arianto

Secangkir Kopi

Oleh Nanang Suryadi

sore yang hangat, ruap harum secangkir kopi
demikianlah sayangku, kumaknai bahagia

begitu sederhana, tercipta setiap saat
bukan hanya dalam benak mimpi kita

www.geocities.com/nanangsuryadi/kerinduan-angin.doc

============ ========= =

Yang ini dicomot Erwin

Teruntuk Istriku

Karya : Erwin Arianto,SE


tentang-pernikahan. com -

sore yang hangat ruap harum secangkir kopi
demikianlah sayangku kumaknai bahagia
begitu sederhana tercipta setiap saat bersama
bukan hanya dalam benak mimpi kita

Teruntuk Istriku Yang Menawan
karena rasa adalah keindahan,
tak ada nirwana di awan mengembara
Tetaplah kau diam disana

teruntuk Istriku yang tercantik
Terimaskih ku atas cinta yang menarik
Yang kau balurkan padaku setiap detik
Bukan Hanya buaian yang menggelitik

Teruntuk Istriku yang teristimewa
Tahu kah kau, ku sangat mencinta
Dengan seluruh hati ku beri salamanya
Untuk Dirimu yang selalu kucinta

Untuk istri ku yang setia
Kau telah hapus semua duka
Semoga pencinpta memberi karunia
Agar bisa bersama sampai di hari senja

Depok, 15 January 2007

http://tentang-pernikahan.com/article/articleindex.php?aid=884

MaTi Mencontek Bersama Erwin Arianto {1}

In Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com,

Visum dan Investigasi Oleh Hasan Aspahani

Korban : Hasan Aspahani

Tersangka, Pelaku : Erwin Arianto


Ini sajak Erwin Arianto (www.coretanpena- erwin.blogspot.com) yang dikirim ke berbagai milis yang kebetulan juga saya ikuti. Sayang, sajak ini dan satu sajak lain yang sudah saya ributkan sudah dia hapuskan dari blognya:

penyair, jangan kau sebut lagi aku dalam puisimu
Sajak ERWIN ARIANTO

meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi?
Adakah Salah syair bertulis makna

di mana bisa kutemui
puisi malam ini katanya
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada , di sana cuma ada rembulan.

apa yang lebih indah dari sebunga puisi
tak ada.. tak ada.. di luar taman hati
terhambur kelopak-kelopak kata tak berkna
yang baru saja mekar dilembar penuh duka

apa makna lebih resah dari sejuta puisi
tak ada,mengasuh setiap ucap seperti sabda
penyair tolong jangan kau sebut lagi aku dalam puisimu
jika hanya memperparah luka Kata

Depok 30 April 2008

Mari kita lihat bagaimana cara dia mencontek:

Bait 1:
meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi?
Adakah Salah syair bertulis makna

Ini sajak saya (Des 2002, cek di blog Sejuta Puisi):

Lalu Kusebut Puisi, Mau Apa

meskipun tak kutulis apa-apa
di bait-bait puisi ini, lalu kusebut
ia sebagai puisi,
"kau mau apa?"

des2002

IA hanya menganti tanda tanya dengan koma, dan kemudian menambah satu larik: Adakah Salah syair bertulis makna.

Kenapa S pada kata "salah" harus kapital? Entahlah, ini mungkin jurus puitika baru yang ingin dia perkenalkan. Tapi, saya kira dia hanya tidak tahu tata bahasa dan aturan ejaan, kapan huruf besar dan kapan huruf kecil.

Bait 2:

di mana bisa kutemui
puisi malam ini katanya
"jumpai ia di atas kuburan..."
tapi, tak ada , di sana cuma ada rembulan.

Dan berkut ini sajak saya, ditampilkan di blog Sejuta Puisi pada
tanggal yang sama dengan puisi saya di atas di:

Kata Penyair Tua

"di mana bisa kutemui
puisi malam ini?" katanya

(dia rindu sekali)

kata penyair tua:
"jumpai ia di atas kuburan..."

tapi, tak ada
tak ada, di sana
cuma ada bulan.

(des 2002)

Erwin membuang tanda petik untuk kalimat langsung, membuang bait "(dia rindu sekali)" dan "kata penyair tua:" dan langsung ke larik berikutnya dengan mengubah pelarikan.

Dia saya kira tidak tahu penyair tua itu siapa, kenapa kuburan, dan kenapa bulan, dan bukan "rembulan" seperti yang dia pilih untuk menggantikan kata itu. Atau dia tahu? Sehingga tiba-tiba muncul sosok fiktif dengan marga yang sama dengan Sitor? Dua bait berkutnya pun diolah dengan cara yang sama. Nanti kita bahas. (bersambung)